Perjalanan hidup manusia terbukti tidk lancar2 saja, termasuk perjalanan hidup orang percaya. Bahkan secara iman kita dituntut untuk yakin bahwa "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu..." Roma 8:28. Entah kenapa falsafah duniapun mengakui hal yang sama, yakni memandang masalah sebagai sebuah proses pendewasaan, sarana peningkatan mutu atau saat peningkatan
kompetensi serta waktu untuk memperhalus karakter. Iman Kristen dan filsafat dunia seakan sepakat berkata: bukankahkah besi harus di tempa supaya tajam dan berbentuk? Bukankah emas harus dibakar supaya semakin murni? Bukankah kain harus dipotong potong kemudian dijahit supaya terbentuk? Bukankah benih harus ditanam supaya tumbuh?, dan banyak lagi kesamaannya.
Mengapa orang percaya harus yakin bahwa "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu"? Tujuannya ialah supaya perjalanan hidup selanjutnya jadi lancar. Jadi, *periode hidup tidak lancar itu merupakan periode persiapan untuk percepatan perjalanan. Bukankah bersiap dalam Tuhan merupakan kunci berhasil orang percaya? Bagai l pengendera yang akan melewati jalan menanjak nan terjal harus menguji lebih dahulu rem dan pedal gas kenderaan, kemudian menyesuaikan gigi yang sesuai dengan kondisi jalan. Perhatikanlah kalimat *"Allah turut bekerja....*", menunjukkan bahwa setiap kesanggupan orang percaya merupakan bentuk campur Tangan Tuhan dan wujud kasih kuasa dari Pribadi Yang Mahabesar.
Ini perlu disadari supaya setiap orang percaya tetap tenang saat ditanjakan nan terjal, kemudian selalu bersyukur saat tiba dijalan yang landai nan permai. Haleluyah.
Semoga saudara sudah melewati periode persiapan itu yaa✅️. Dan semoga pula sekarang semuanya sudah santai di jalan landai nan permai. Namun harap tetap waspada, karena roh ngantuk biasanya menggoda dikala santai. Gbu selalu. Doa pendeta beserta saudaraππ